Minggu, 16 Februari 2014

AHMADUN: SAYA MELAWAN DENGAN GAYA SATIRE

SALAM SASTRA
Kawan-kawan, Alhamdulillah saya sudah membaik dan pulang dari RS. Namun, masih harus nenahan diri untuk tidak keluyuran dulu. Dokter menyarankan agar saya untuk beberapa hari ini bedrest dulu, alias harus lebih menyukai tempat tidur daripada keluyuran di jalan-jalan penuh kemacetan jakarta.
Tentang sakit saya ini, mohon tidak salah paham. Janganlah dikait-kaitkan dengan ribut-ribut soal puisi esai dan buku 33 tokoh sastra. Rutin saja, setelah overload pekerjaan, suka harus istirahat di rumah sakit, agar tidak ada yang berani merecoki dan bisa tidur dengan tenang, tanpa gangguan, serba dilayani oleh perawat di ruang ber-AC. Yah, mungkin ini salah satu bentuk kemanjaan tubuh saya. Sudah lama saya memang mengidap gangguan “darah tinggi” bawaan — bukan darah muda lho!. Suka kambuh kalau makan tak terkendali dan pekerjaan overload, tekanan darah bisa memuncak dan vertigo tak terhindarkan, dunia jadi seperti oleng, dan tubuh limbung kalau berdiri. Udah tua gini memang harus tahu diri ya! Gak pantas lagi merasa perkasa. Gak tahan kebanyakan “makan puisi esai”. He he he!
buku
Soal puisi esai pesanan Denny JA, pendapat Chavcay di postmetro oke juga. Pantas dipertimbangkan. Begitu juga masukan Asrizal Nur. Jadi, kawan-kawan yang termasuk dalam 23 penyair kondang penulis “puisi esai pesanan”, jangan terlalu bersedih. Ayo bersikap gagah seperti Chavcay dan Asrizal. Melawan “pembodohan” publik sastra dengan gagah perkasa! Saya melawan dengan gaya satire, kalian boleh melawan dengan gaya masing-masing, dengan tujuan sama: menyelamatkan sastra Indonesia dari pembodohan, dari upaya “pemujaan” terhadap oknum berduit yang sangat megalomonia, melawan penyeragaman gaya puisi untuk menokohkan seseorang yang sangat mengandalkan uang sebagai kekuatan, seseorang yang mengesankan seakan semua sastrawan dapat “dibeli” dengan harga murah! Ini salah satu bentuk penghinaan bagi dunia sastra. Saran saya, lain kali, menghadapi oknum megalomonik seperti itu, pasanglah tarif yang jauh lebih tinggi. Mungkin saya juga akan mempertimbangkan kembali penarikan puisi esai saya jika dibayar 500 milyar (tak perlu satu trilyun lah, Chav, kasihan Denny).
Hati nurani kini kan menjadi barang langka, sudah masuk suaka budaya, jadi harus dibeli dengan sangat mahal. He he he. Lumayan, kalau dibayar 500 milyar kan bisa untuk memborong semua buku “33 Tokoh Sastra yang Paling Berpengaruh” plus hak ciptanya, lalu kita buang nama Dennya JA, kita tambah jadi 100 tokoh (tanpa nama Denny JA, tentu), dan kita cetak ulang dalam 10 bahasa. Tentu, anggota Tim 8 juga perlu kita seleksi ulang, kita buang “anggota titipan”, kita ganti ketuanya, kita kembalikan Kang Maman Mahayana ke dalamnya, agar menjadi tim yang benar-benar independen…..
Kawan-kawan, kalau kemarin saya pakai gaya perlawanan yang satire dan sentimental, untuk selanjutnya jika dipandang perlu, gaya dan kuda-kuda akan saya sesuaikan. Kalau perlu, pakai “jurus dewa mabuk” atau “jurus penyair lagi jatuh cinta”. Kalian boleh sarankan “jurus baru”, asal ampuh untuk melawan “politik tipu-tipu” ….
Sekian dulu ya. God bless you! Salam cinta untuk semua! Mmmuuuaaahhh!
Wassalam wrwb
Ayeha, hanya sebatang rumput
yang masih tertatih di jalanNya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar