SAYA AKAN KEMBALIKAN HONOR KE DENNY JA
Salam sastra.
Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, sebagai penyempurna dan konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan
saya pada “politik puisi esai” (ikut menulis puisi esai pesanan) itu
hari ini saya akan mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta kepada
Denny JA. Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya
untuk mengembalikan “uang subhat” itu. Semoga dengan kerendahan hati
pula Denny JA berkenan menerimanya kembali.
Dengan
pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai
berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas
pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama
puisi-puisi esai yang lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya.
Lha wong sudah terlanjur dicetak. Yang penting, bagi saya pribadi, saya
sudah jujur dengan suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang
sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu.
Perlu saya
tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama
sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak
bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah
telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan
atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari
kekhilafan, hanya ini yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan
atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” Denny JA.
Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam
pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau
menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat "politik puisi esai" itu.
Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun,
memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek
menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja
yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis
Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau
sepahit apapun.”
Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan
pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama,
karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap
persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga
kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan
siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT
meridloi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada
langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar
setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam
wrwb. * ahmadun yosi herfanda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar